Categories
Agraria

Unjuk Gigi di Dunia dengan Finfish

Seiring tren meningkatnya konsumsi daging putih di dunia, produksi ikan sebagai salah satu penyedia daging putih pun menunjukkan kenaikan dalam lima tahun terakhir.

Pada selang waktu 20112015, produksi ikan bersirip dunia bertambah sekitar 28%, dari 40,6 juta ton menjadi 51,9 juta ton. Khusus 2015, ikan air tawar terbilang penyumbang terbesar dengan porsi 84% atau sekitar 44 juta ton.

Jawa, Sentra Utama

Hal tersebut diungkap Erwin Suwendi, Head of Nutrition and QC PT Suri Tani Pemuka (STP), satu-satunya perwakilan produsen pakan ikan dan udang dari Indonesia yang tampil pada acara The Aquaculture Roundtable Series (TARS) 2017 di Bali beberapa waktu lalu. Menurut Erwin, pada 2015 Indonesia menjadi produsen nomor tiga menyusul China dan India yang masing-masing menduduki peringkat pertama dan kedua.

“Total produksi Indonesia sekitar 3,732 juta ton atau 7% dari total produksi global,” ungkap magister jebolan Universitas Hokkaido, Jepang, itu, mengutip data FAO 2017. Se mentara China seba gai pucuk pimpinan me masok sekitar 28,789 juta ton. Kemu dian disusul India yang menghasilkan 4,713 juta ton. Erwin merinci, dari 3,732 juta ton yang diproduksi Indonesia pada 2015, 81%-nya adalah ikan air tawar dan sisanya ikan air laut.

Nila alias tilapia termasuk jenis yang paling banyak dibudidayakan dengan pasokan 1,0845 juta ton. Menyusul kemudian lele 719,6 ribu ton, ikan mas 461,5 ribu ton, patin 339,1 ribu ton, dan gurami 113,4 ribu ton. Selain itu ada juga nilem, ikan toman, dan sidat. Berdasarkan wilayah, Pulau Jawa mempro duksi paling banyak dibandingkan daerah lainnya.

“Pada 2015, produksi ikan air tawar di Jawa sebanyak 1,228 juta ton dan ikan laut sebanyak 334.413 ton,” papar pria yang pernah mengenyam pela tihan nutrisi akuakultur di Kanada pada 2012 itu.

Faktor-faktor Penentu

Untuk mendapat produksi maksimal, lanjut Erwin, ikan dibiakkan dari indukan berkualitas. Di Indonesia ada beberapa indukan yang unggul seperti kerapu strain Cantrang, nila strain GESIT, Nirwana, BEST, dan Srikandi. Selain itu ada ikan mas unggul, yaitu strain Sinyonya, Rajadanu, dan Mustika, serta patin strain PASUPATI. Hampir semua strain unggul ini memiliki kelebihan pertumbuhan yang cepat. Strain-strain unggul tersebut dirakit para peneliti di sejumlah balai penelitian perikan an, Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar di Sukabumi, Jawa Barat, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut Gondol, Bali, Balai.

Besar Pengembangan Budidaya Laut Lampung, dan Balai Penelitian Budidaya Air Payau Maros. Di samping itu, ketersediaan pakan juga mempengaruhi kelancaran produksi. Erwin yang mengutip data GPMT 2016, memperlihatkan peningkatan konsumsi pakan akuakultur dari 2008 hingga 2016 “Pada 2016, konsumsi pakan akuakultur lebih dari 1,2 juta ton,” terangnya. Secara keseluruhan, saat ini setidaknya ada 49 pabrik pakan akuakultur yang teregistrasi dan lokasinya kebanyakan di Jawa dan Sumatera.

Peran pabrikan pakan akuakultur tentu saja sangat penting. Tanpa pakan pabrikan dan hanya meng andal kan pakan alami, produksi ikan tidak bisa digenjot secara nasional.

Budidaya Ramah Lingkungan

Sebagai salah satu produsen akuakultur, STP menghasilkan pakan udang, ban deng, lele, nila, sidat, kerapu, dan kakap pu tih. Belakangan ini STP melihat pen ting nya terobosan pakan yang ramah lingkungan untuk mendukung budidaya berkelanjutan. “Kita membuat nutrient balance dietary dengan pakan rendah fosfor.

Selain itu juga meningkatkan kecernaan fosfor di dalam pakan untuk meminimalisir polutan,” papar Erwin. Sejauh ini, Japfa merupakan pabrikan yang memproduksi pakan tilapia rendah fosfor pertama di Indonesia. Divisi akuakul tur Grup JAPFA ini juga pernah diundang ke Amerika Serikat sebagai per wakilan dari Indonesia untuk berpartisipasi dalam F3 Challenge (free fishmeal/fish oil diet).

Selain pakan, STP juga memproduksi nila dalam keramba jaring apung di Danau Toba, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Di sana tata cara budidaya nila diupayakan seramah mungkin terhadap lingkungan dan berkelanjutan dari berba gai sisi, termasuk melalui pemberian pakan rendah fosfor. Pakan pun dipilih yang terapung sehingga bila tersisa tidak mengendap ke dasar danau terbesar di Indonesia tersebut. Sisa pakan disedot dengan alat khusus supaya jangan sampai mencemari destinasi wisata yang kondang itu.

Cara budidaya ini mengadopsi budidaya ikan salmon yang telah diakui dunia ramah lingkungan. Hasilnya, nila berkualitas ekspor tembus pasar Amerika Serikat.