Categories
Agraria

Sukses Beternak Sapi Perah Sembari Kuliah

Banyak yang menganggap beternak identik dengan kata kandang, dekil, dan lusuh. Apalagi beternak sapi perah, sudah kotor, bisnisnya dinilai sulit un tung lantaran harga tak sebesar harapan. Meski demikian, ada yang memandang bahwa beternak sapi perah itu menyenangkan. Jika dihitung, bisnisnya pun tetap prospektif bagi Ahmad Hofit.

Kepada AGRINA, Mahasiswa Fakultas Peternakan Univesi tas Islam Malang, Jatim ini mengaku bangga menjadi peternak. Bahkan, ia berniat mengaplikasikan pengetahuan yang didapat selepas lulus kuliah. “Rencana habis lulus enggak bingung. Insya Allah langsung menerapkan ilmunya,” ungkap Anak muda asal Dusun Cikur, Desa Kalipucang, Kec. Tutur, Kab. Pasuruan, Jatim ini. Orang Tua dan Ilmu Hofit, begitu ia akrab disapa mengaku, terjun ke dunia peter nakan karena mencontoh jejak orang tua.

Padahal, ia telah bekerja di perusahaan swasta di Surabaya. Meski memiliki latar pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Administasi Perkantoran, jiwanya terpanggil untuk beternak saat melihat sang ayah me nekuni profesi sebagai peternak sapi perah. “Setelah itu saya memutuskan untuk kuliah sembari beternak,” kenangnya. Sejauh ini Hofit memelihara 10 ekor sapi dengan produktivitas rerata 10 l/ekor/ hari, tergantung tingkat laktasinya.

Untuk pemasaran, dia bermitra dengan Koperasi Peternakan Sapi Perah Setia Kawan di desanya. Mendapat harga Rp5.000/liter dari koperasi, susu lalu didistribusikan ke IPS (industri pengolahan susu). Pendapatan Hofit pada Desember 2017 hanya menyentuh angka Rp5 juta. Dia mengaku nilai itu agak turun lantaran sapi yang sedang laktasi sebanyak 6 ekor, 1 kering kandang, dan sisanya pedet. Padahal, Juli lalu penghasilan kotornya sebagai peternak sempat menyentuh Rp9,2 juta sebulan.

Meski baru memulai usaha ternak pada 2012, Hofit yakin bisnis sapi perah sangat menjanjikan. Syarat utamanya ialah tidak pernah berhenti belajar dan berhenti berusaha. Tahun lalu Hofit terpilih menjadi salah satu dari 16 penerima beasiswa pendidikan sapi perah yang digagas perusaha an swasta dengan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementeian Pertanian.

Ia mengisahkan, awal mengetahui dibukanya beasiswa itu Hofit langsung mendaf tarkan diri dan mengikuti tes. Usai dinya takan lulus, ia berkesempatan me nimba ilmu di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTU-HPT ) Baturraden Banyumas, Jateng, Balai Pelatihan Kesehatan Hewan (BPKH) Cinagara Bogor, Jabar, dan di Selandia Baru. “Dari situ saya mendapat pengalaman dan melihat langsung petenakan modern, baik besar lahan maupun populasi sapinya. Selain itu, saya juga belajar cara manajemen ternak yang baik mulai dari pemberian pakan, perawatan, hingga proses pemerahan menggunakan mesin,” ulasnya. Ada Kendala Namun Tetap Optimis Bukan tanpa kendala dalam usaha sapi perah. Sulung dua bersaudara itu menyebut, harga pakan dan biaya pembuatan kandang yang mahal menjadi tantangan.

Kesulitan mencari bibit yang bagus pernah pula jadi persoalan. Kendati begitu, ia mantap menatap usaha ternak nya terus berjalan. Saat ini Hofit tengah me ngembangkan rumput odot dan legum indigofera sebagai bahan pakan. Baik rumput odot maupun indigofera, sarat nutri si tinggi. Keduanya berpotensi besar sebagai pakan hijauan. Anak muda kelahiran 1992 itu pun me rang kul beberapa peternak untuk bersa ma-sama mengembangkan pakan hijauan. Menghadapi 2018, Hofit merasa wajib optimis. Apalagi setelah ditambah ilmu yang ia dapat dari beasiswa.

Ia menargetkan kualitas dan hasil produksi mening kat minimal 15 liter/hari. Fokus jangka panjang adalah melakukan rearing (pemberaran pedet). “Cita-cita saya mengajak para pemuda di desa untuk mulai beternak. ‘Kan SDA (SUmber Daya Alam)-nya masih melimpah. Kalau bukan kita, siapa lagi,” pungkasnya.