Pembangunan Berkelanjutan Pariwisata Danau Toba

Pembangunan Berkelanjutan Pariwisata Danau Toba

“PENGEMBANGAN PARIWISATA DANAU TOBA harus dilaksanakan secara berkelanjutan, bukan menyisihkan apa yang sudah ada dengan alasan konservasi lingkungan yang berlebihan. Danau Toba harus dijaga jangan hanya jadi tontonan para wisatawan tapi harus menjadi sumber kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat setempat,” ungkap Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., Menteri Perta nian periode 2000 – 2004, saat diwawancara AGRINA. Pengembangan atau konservasi Danau Toba? Pemerintah dewasa ini merencanakan pembangun an 10 destinasi pariwisata nasional, salah satunya daerah lingkar Danau Toba.

Destinasi ini merupakan danau kaldera pegunungan yang sangat indah dan besar, bahkan terbesar di Asia Tenggara. Sebenarnya Danau Toba telah lama menjadi tujuan wisata bergengsi bagi wisatawan nusantara dan mancanegara. Namun semua itu memudar saat terjadinya krisis moneter Asia pada 1998. Krisis moneter yang diikuti krisis ekonomi itu menyebabkan tidak tersedianya dana dari pemerintah untuk memelihara dan membangun infrastruktur pariwisata Danau Toba sehingga obyek wisata ini sangat sulit dijangkau wisatawan. Dengan ditetapkannya Danau Toba sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata nasional, diharapkan akan tersedia sumberdaya lebih besar untuk memperbaiki infrastruktur, lingkungan, dan kelembagaan yang menunjang pariwisata.

Namun harus diingat, Danau Toba adalah wilayah berpenduduk relatif ba nyak dengan berbagai kegiatan sehingga kondisi alam yang indah sangat mudah mengalami pencemaran. Karena itu, pembangunan Danau Toba harus didasarkan pada prinsip pembangunan yang berkelanjutan dengan memperhatikan kepentingan people, planet, dan profit. Artinya, pembangunan haruslah menciptakan nilai tambah buat para pelakunya yang dapat dirasakan seluruh masyarakat setempat apapun profesinya tanpa menyebabkan kerusakan lingkungan. Masuknya kegiatan pariwisata dalam skala besar di Danau Toba hendaknya menjadi bagian dari pembangunan danau yang berkelanjutan.

Setiap aksi dan kegiatan dalam rangka inisiatif pengembangan pariwisata seyogyanya diletakkan dalam perspektif pembangunan yang berkelanjutan. Tidak seperti keinginan segelintir orang dengan kepentingan tertentu mau mengalihkan pembangunan berkelanjutan menjadi usaha konservasi lingkungan yang berlebihan di lingkar Danau Toba. Harus dielakkan pembangunan Da nau Toba yang bersifat konservatif tetapi justru akan merugikan masyarakat di wilayah itu. Bagaimana sebaiknya membangun Danau Toba? Pembangunan Danau Toba harus dimulai dari apa yang ada saat ini lalu mengatur dan mengubahnya men jadi lebih baik dengan meminimalkan konflik. Karena itu, para stakeholder, yakni pemerintah, masyarakat, dan lembaga swadaya masyarakat, perlu paradigma bersama, yaitu pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan adalah usaha perbaikan ke keadaan yang lebih baik secara terus menerus. Bukan melarang atau menutup kegiatan yang sudah ada karena dianggap kurang bersahabat dengan lingkungan. Justru masyarakat dan pemerintahan dae rah harus dibimbing agar mampu memperbaiki keadaan agar lebih baik dan lebih berkelanjutan.

Terkait dengan hal tersebut, tidak mungkin mengusir masyarakat dari pinggiran Danau Toba karena mereka belum mampu atau sadar tentang pembangunan berkelanjutan. Misalnya, mereka harus dididik agar tidak sembarangan menghasilkan dan membuang limbah ke danau. Demikian juga dunia usaha seperti restoran, hotel, alat transportasi danau, dan industri hampir semua belum memiliki unit pengolahan limbah yang memadai untuk menjaga lingkungan danau. Mereka perlu dibantu dan diatur agar dapat mengelola limbah mereka secara berkelanjutan. Pun usaha perikanan, teristimewa usaha keramba ja ring apung milik rakyat dan perusahaan, harus diatur, diberikan tempat, dan dibimbing agar mempraktikkan teknik budidaya perikanan yang berkelanjutan. Bahkan mereka perlu dibimbing supaya dapat menjadi obyek wisata dan mendukung pariwisata dengan menyediakan kuliner berbasis ikan air tawar Danau To ba. Tidak kalah pentingnya pertanian, peternakan, dan kehutanan di sekitar Danau Toba harus juga seca ra lambat laun dibina agar mempraktikkan teknik bu didaya yang berwawasan lingkungan